Free Web Hosting Provider - Web Hosting - E-commerce - High Speed Internet - Free Web Page
Search the Web

FUNGSI SEKS

GUBUG BAGAN TV  FM RADIO RISENSI BUKU HAPPY BIRTHDAY GARAM DUNIA MODERAT DAN LIBERAL FUNGSI SEKS LAMBANG SEX PERDA SUSNO DUADJI MAKNA POLITIK MANUSIA - ALAM SHOLAT KRISTEN PAUS FRANSISKUS MASYARAKAT MISKIN NATAL dan TAHUN BARU STUDI ISLAM GOLPUTIH PRIBUMI - NON PRIBUMI PESAN PASTORAL UNDANG-UNDANG ITE E-BOOK D'HEAVEN ISLAND GREEK NEW TESTAMENT


SELAMAT DATANG

MAKNA PERSETUBUHAN 
 

SUAMI

 

 ISTERI

 Sebagai salah satu bentuk dari ungkapan kasih sayang dan kemesraan kepada isteri

 

 Sebagai salah satu bentuk dari ungkapan kasih sayang dan kemesraan kepada suami

Untuk memperoleh keturunan dari isteri

 

 Untuk meperoleh keturunan dari suami

Mempunyai dorongan seks yang kuat, sehingga Coitus merupakan cara memuakan dorongan seks atau mendapat pemuasan seksual, sekaligus memuaskan isterinya

 

 Sebagai ungkapan perasaan bahwa dirinya adalah perempuan sejati, melengkapi fungsi lainnya dan hanya dirinyalah partner seksual bagi suaminya

 Sebagai ekspersi jati diri sebagi laki-laki sejati, sehingga kegagalan coitus menandakan kegagalan hidupnya

 

 Merupakan tanda kepastian bahwa dirinya dikasihi suami. Bukti bahwa dirinya mempunyai daya tarik erotis bagi suami

 Mendorong suami untuk lebih mengasihi isteri. Keinginan/dorongan seks hanya dapat disalurkan melalui ejakulasi/ orgasme

 

 Memuaskan dorongan dan keinginan seks, sehingga berusaha sedapat mungkin mencapai orgasme

 Mengurangi friski dalam rumah tangga

 

 Membuat sistem saraf berelaksasi

 Memberikan pengalaman hidup yang paling menyenangkan

 Merupakan pengalaman yang paling indah dalam hidupnya

13259876651235080032

 
 
 
 

Seks merupakan energi psikis yang menghantar manusia melakukan tindakan yang bersifat seksual dalam bentuk persetubuhan/coitus, baik dengan tujuan reproduksi maupun tidak, serta disertai dengan suatu penghayatan yang menyenangkan.  Atas dasar itu, maka setiap individu (manusia) laki-laki dan perempuan yang telah dewasa dan normal berusaha untuk mendapat pengalaman yang menyenangkan tersebut melalui perkawinan atau pernikahan.

Kenikmatan Seks-seksual (biasanya didapat) melalui perkawinan/pernikahan, itu bisa terjadi pada manusia (laki-laki dan perempuan) yang menikah; namun bisa juga didapat dengan cara tidak biasa.” Artinya, orang bisa melakukan itu sebagai sex pra-nikah (yang melakkukan ml sebelum menikah, pada usia remaja sampai dewasa); dansex di luar nikah (orang yang sudah menikah, namun ml dengan laki-laki atau pun perempuan yang yang bukan isteri/suaminya).

Sex pra-nikah, (di sini, perkawinan tak berfungsi dalam dunia sex ini)telah telah terjadi dan merambah kesegenap lapisan usia; setiap laki-laki dan perempuan setelah akil balig, bisa melakukannya. Ada banyak peluang (dan sangat gampang didapat) untuk itu. Akibatnya, tak sedikit kehamilan pada usia remaja, kematian akibat gagal aborsi, dan tak terhitung anak yang terlahir sebelum menikah.

Sex pra-nikah, bisa terjadi pada mereka (pasangan) yang masih pacaran, mereka (pasangan) sudah bertunangan, atau pun laki-laki dan perempuan usia dewasa yang belum menikah (namun butuhpenyaluran energi seksnya). 

SPN (bukan sekolah polisi negara, tapi SEKS PRA-NIKAH), bisa dilakukan dengan pacar, tunangan, ttm, atau pun dengan laki-laki dan perempuan yang berprofesi sebagai pekerja sex komersial.

Sex di luar nikah, orang yang sudah menikah, namun ml dengan laki-laki atau pun perempuan yang yang bukan isteri/suaminya. Sex di luar nikah, juga tidak membutuhkan perkawinan; pada kegiatan ini, lembaga perkawinan tidak dibutuhkan - tidak berfungsi. SDLN (bukan Sekolah Dasar Luar Negeri, tetapi seks di luar nikah), bisa dilakukan oleh banyak orang yang berstatus suami dan isteri; bisa dengan teman kantor, kekasih, selingkuhan, gigolo, perempuan psk, atasan, bawahan, atau bahkan dilakuka dalam arena pesta seks yang berganti-ganti pasangan, dan seterusnya.

Agaknya SPN dan SDLN telah mulai diterima sebagai sesuatu yang normal; dan mungkin ini juga akibat dekadensi moral atau sikon moral yang merosot [jatuh] atau sementara mengalami [dalam keadaan/sikon] mundur atau pun kemunduran; kemunduran dan/atau kemorosatan yang terus menerus [sengaja atapun tidak sengaja] terjadi serta sulit untuk diangkat atau diarahkan menjadi seperti keadaan semula atau sebelumnnya.

Kini, tergantung kita, anda dan saya, SPN dan SDLN memang nikmat, namun tak sedikit bencana yang mengikutinya; ada penyakit, ada kematian, dan ada nilai moral yang terabaikan.  Dan telah banyak korban akibat kedua hal tersebut; korban yang sulit dipulihkan secara psikhologis.

 Sehingga, ada baiknya, orang dewasa menikah-kawin, daripada hangus oleh hawa nafsu; ada baiknya remaja mendapat didikan seks dari orang tua; didikan yang menyangkut norma, etika, agama serta dampak jika melakukan hubungan SPN.  Dan juga, ada baiknya, para suam-isteri, yang masih atau suka SDLN, belajar untuk berhenti atau menyudahinya; karena jangan sampai hal tersebut terulang kepada anak-anak mu. SDLN memang luar biasa karena anda sudah terbiasa, tapi di situ, di tempat itu, ada suara hati dan mata hati yang sebetulnya mau menyudahi.

Tidak ada hukum manusia - hukum sipil yang melarang seseorang melakukan SPN dan SDLN; keduanya adalah urusan pribadi - private, sehingga tak perlu diributkan!Betul dan benar, tapi mungkin ada HUKUM HATI NURANI - HUKUM MORAL, yang tak tertulis namun ada dalam/pada darah dan daging tiap insan.  Dan dengan itu, para pelaku SPN dan SDLN, langsung berhadapan dengan cermin dirinya sendiri; dan dalam cermin itu, sosok hati nurani dan hukum moral menatapnya dengan tajam, sambil berkata, ‘Apakah yang kau lakukan itu baik atau tidak!?’

 

  JAPPY PELLOKILA

1325987570590033059 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Seks dan seksualitas seringkali merupakan sesuatu yang mudah dan biasa, tetapi bagi beberapa orang (ataupun kelompok masyarakat tertentu) adalah hal tabu dan terlarang. Konsep dualistis ini menjadikan sikap dan pandangan terhadap perilaku seks dan seksuaslitaspun menjadi berbeda.

Ada orang yang menganggap seks dan seksualitas tidak perlu dibahas, karena manusia akan memahaminya berdasarkan dorongan naluri seksual dalam dirinya. Tetapi ada juga ingin mengetahui seluk beluknya dengan baik dan benar sehingga mempunyai penilaian yang tidak keliru tentang seks dan seksulitas.

Dengan demikian, seks menjadi sesuatu yang mudah, tetapi sekaligus sering merupakan permasalahan mencolok serta cukup kompleks. Kompleksitas tersebut terjadi karena menyangkut hubungan intim suami-istri, serta pemahaman dan penghayatan seks bagi anak-anak dalam tumbuh kembangnya.

Seks merupakan energi psikis yang menghantar manusia melakukan tindakan yang bersifat seksual dalam bentuk persetubuhan/coitus, baik dengan tujuan reproduksi maupun tidak, serta disertai dengan suatu penghayatan yang menyenangkan.

Atas dasar itu, maka setiap individu (manusia) laki-laki dan perempuan yang telah dewasa dan normal berusaha untuk mendapat pengalaman yang menyenangkan tersebut melalui perkawinan atau pernikahan.

Oleh sebab itu, semakin tinggi kesadaran manusia melalui pendewasaan dan pendidikan, mereka berusaha memperoleh dan mencapai kehidupan seks yang sehat. Kenyataan tersebut menjadikan WHO, atau World Health Organization merumuskan bahwa kehidupan seks yang sehat adalah suatu integritas dari kehidupan manusia sebagai manusia yang berjenis kelamin, meliputi seluruh aspek kehidupan, fisik, psikis, dan sosial.

Dalam konteks kekinian, perkembangan masyarakat yang sejajar dengan perubahan global, seks tidak lagi terbatas pada hubungan intim, persetubuhan (coitus) antara laki-laki dan perempuan atau. Tetapi juga menyangkut seksualitas, dalam arti segala sesuatu yang berhubungan dengan perbedaan dan persamaan gender (semua aspek kemanusiaan manusia laki-laki dan perempuan) serta dipengaruhi oleh psiko-sosial, latar belakang budaya, pendidikan, agama, dan kepribadian masing-masing individu, dan lain-lain.

Seks dan seksualitas juga menyangkut penggunaan alat-alat kontrasepsi, perceraian, seks pra-nikah dan di luar nikah, aborsi, pornografi, hidup bersama tanpa nikah, penyimpangan seksual, aspek-aspek dalam persetubuhan, dan lain-lain, termasuk di dalamnya penyalahgunaan seks dan seksualitas, serta upaya pendidikan seks kepada anak-anak.

FUNGSI SEKS DALAM PERKAWINAN

Pada suami-isteri, fungsi seks bukan hanya waktu untuk mengetahui dan memahami secara biologis “cara kerja” dari organ reproduksi kedua belah pihak, melainkan “suasana” yang terjadi sekitar atau seputar pra-selama-dan pasca hubungan seks antara suami-isteri. Hal ini berarti penekanan utamanya pada aspek-aspek psikhologis di sekitar hubungan intim antara suami-isteri yang hanya bisa dirasakan oleh keduanya. Seks dalam Perkawinan merupakan anugerah Tuhan, wajar, indah, sakral, dan untuk dinikmati bersama hanya oleh dan bagi suami istri; dan merupakan bagian dari keutuhan dan kesatuan suami-istri.

Keutuhan hidup dan kehidupan manusia laki-laki dan perempuan tersebut menyangkut seluruh aspek psikis dan fisiknya, serta hidup dan kehidupannya. Salah satu aspek yang terkandung dalam keutuhan manusia tersebut adalah nafsu (tepatnya naluri) seksual. Naluri bukan untuk menyiksa laki-laki dan perempuan, tetapi agar mereka mendapatkan kenikmatan dan kepuasaan. Manusia telah dirancang dengan begitu indah serta utuh sehingga mempunyai daya tarik dan kenikmatan jasmaniah; dan juga, hubungan intim mampu melepaskan ketegangan biologis; serta sekaligus yang menunjukkan bahwa suami atau isteri secara total menerima pasangannya, dan menyatakan (dengan bahasa tubuh yang romantis) kesediaannya untuk saling bergantung satu sama lain. Secara umum dan ringkas fungsi seks dalam perkawinan -tanpa menurut urutan pentingnya- menyangkut berbagai aspek, antara lain:

  • puncak asmara atau klimaks kemesraan antar suami istweri
  • ungkapan cinta dan kasih sayang
  • prokreasi atau untuk mendapat keturunan
  • mendapat kesenangan - relaksasi - rekreasi
  • menghilangkan kepenatan, stres, bahkan sebagai obat jika susah tidur
  • dll, sesuai pengalaman anda